FEATUREDPop

Culture: Menuju Indonesia Atletis

Budaya tidak hanya berarti batik, bahasa daerah, atau upacara adat. Budaya juga bisa lahir dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan bersama, diulang terus-menerus, lalu dianggap “normal” oleh masyarakat. Karena itu, ketika semakin banyak anak muda mulai lari pagi, ikut gym, main padel, bersepeda, jalan kaki, ikut fun run, atau sekadar membagikan progres olahraga di media sosial, sebenarnya kita sedang melihat tanda munculnya budaya baru: budaya hidup aktif. Inilah yang bisa kita sebut sebagai gerakan menuju Indonesia atletis.

Fenomena ini terasa kuat di kalangan anak muda. Dulu, nongkrong dan scrolling media sosial sering menjadi aktivitas utama setelah sekolah atau kerja. Sekarang, banyak anak muda mulai menjadikan olahraga sebagai gaya hidup, bahkan sebagai identitas sosial. Data Strava Year in Sport Trend 2025 menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok dengan pertumbuhan tercepat di Strava; laporan itu juga mencatat meningkatnya aktivitas lari dan race, serta Gen Z 75% lebih sering menjadikan race atau event sebagai motivasi utama berolahraga dibanding Gen X. Data ini memang berasal dari pengguna platform, bukan seluruh penduduk Indonesia, tetapi tetap menunjukkan arah perubahan budaya digital: olahraga makin tampil, makin sosial, dan makin dianggap keren.

Gerakan ini juga sering digaungkan oleh dr. Tirta Mandira Hudhi. Pesannya sederhana: mulai bergerak, mulai olahraga, jangan menunggu tua atau sakit dulu baru sadar kesehatan. Dalam beberapa pemberitaan, dr. Tirta mendorong anak muda membiasakan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, karena olahraga bukan hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga membantu mengelola stres. Ia juga menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai berolahraga, meski idealnya kebiasaan ini dibangun sejak muda.

Namun, euforia “Indonesia atletis” tidak boleh berhenti sebagai tren media sosial. Data kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia masih punya pekerjaan besar. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 37,4% penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas masih kurang aktivitas fisik. Alasan utamanya adalah tidak ada waktu sebesar 48,7%, malas 32,6%, lanjut usia 19,5%, dan tidak punya teman beraktivitas 9,8%. Artinya, masalahnya bukan hanya soal niat, tetapi juga soal budaya, lingkungan, dan dukungan sosial.

Pada kelompok remaja, tantangannya juga nyata. Global School-based Student Health Survey Indonesia 2023 mencatat 75,7% siswa usia 13–17 tahun tidak aktif secara fisik minimal 60 menit per hari selama tujuh hari sebelum survei. Survei yang sama juga menunjukkan 57% siswa menghabiskan tiga jam atau lebih per hari untuk duduk atau berbaring di luar waktu sekolah, PR, atau tidur malam. Data ini penting karena “Indonesia atletis” tidak cukup dibangun oleh orang yang sudah suka olahraga; ia harus menjangkau mayoritas anak muda yang masih sulit bergerak secara rutin.

Dari sisi pembangunan olahraga, ada tanda optimisme. Indeks Pembangunan Olahraga Indonesia tahun 2024 naik dari 0,327 pada 2023 menjadi 0,334. Indeks partisipasi masyarakat dalam berolahraga juga naik dari 0,254 menjadi 0,263, dan indeks kebugaran jasmani naik dari 0,179 menjadi 0,196. Meski kenaikannya belum besar, ini menunjukkan bahwa perubahan sedang terjadi. Kemenpora juga mencatat bahwa partisipasi olahraga masyarakat naik menjadi 26,3% pada 2024, sementara belanja masyarakat untuk olahraga dari alat hingga event mencapai Rp39,5 triliun per tahun. Ini membuktikan bahwa olahraga bukan hanya urusan kesehatan, tetapi juga mulai menjadi ekosistem sosial dan ekonomi.

Maka, “Menuju Indonesia Atletis” seharusnya tidak dimaknai sempit sebagai badan ideal, otot besar, atau lari cepat. Indonesia atletis adalah Indonesia yang warganya menjadikan gerak sebagai bagian dari hidup: berjalan kaki lebih sering, memilih tangga, berolahraga bersama teman, punya sekolah yang aktif, ruang publik yang aman, komunitas yang merangkul pemula, dan media sosial yang menyebarkan semangat sehat tanpa merendahkan orang lain.

Tren anak muda hari ini adalah peluang besar. Jika tren ini hanya berhenti sebagai FOMO, ia akan cepat hilang. Tetapi jika tren ini diubah menjadi kebiasaan, komunitas, dan kebijakan yang mendukung, maka Indonesia atletis bisa menjadi budaya baru. Budaya yang membuat anak muda tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga lebih disiplin, percaya diri, dan mampu menjaga kesehatan dirinya sendiri.

Tubuh yang sehat bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah modal bangsa. Indonesia yang atletis bukan berarti semua orang harus menjadi atlet profesional, tetapi semua orang punya kesempatan untuk hidup lebih aktif, lebih bugar, dan lebih sadar kesehatan. Dari langkah kecil, lari pelan, push-up sederhana, jalan kaki sore, sampai olahraga bersama teman, budaya itu bisa dimulai hari ini

 

Fausil Jamil

Mahasiswa Magister Universitas Mercu Buana Yogyakarta