Sebelum Warisan Menjadi Abu
Desa Adat Sade di Lombok Tengah bukan hanya sebuah tempat tinggal masyarakat Suku Sasak. Ia adalah ruang tempat tradisi, ingatan, dan kehidupan sehari-hari berjalan bersama. Rumah-rumah tradisional, dengan dinding bambu dan atap alang-alang, menjadi bagian penting dari wajah desa sekaligus menjadi penanda bahwa masyarakat Sade masih berusaha mempertahankan warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Namun, di balik keindahan itu terdapat persoalan yang tidak sederhana, salah satunya adalah ancaman kebakaran.
Bagi masyarakat Sade, kebakaran tentu bukan sekadar persoalan kehilangan rumah. Rumah tradisional merupakan bagian dari identitas dan kehidupan keluarga. Material seperti bambu dan alang-alang memang membuat bangunan tampak sederhana dan menyatu dengan alam, tetapi juga membuat api lebih mudah berkembang, terutama ketika musim kemarau tiba. Jarak rumah yang berdekatan juga dapat membuat kebakaran cepat menyebar dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Karena itu, ancaman kebakaran di Sade seharusnya dilihat bukan hanya sebagai bencana fisik, tetapi juga sebagai ancaman terhadap keberlangsungan sebuah kebudayaan.
Yang mungkin paling menyedihkan dari sebuah kebakaran adalah ketika yang hilang bukan hanya bangunan, tetapi benda-benda yang menyimpan kenangan. Kain tenun, alat menenun, peralatan rumah tangga, maupun benda peninggalan keluarga memiliki nilai yang tidak dapat dihitung dengan uang. Sebuah kain mungkin terlihat seperti benda biasa bagi orang luar, tetapi bagi pemiliknya ia bisa menjadi hasil kerja berbulan-bulan sekaligus bagian dari cerita keluarga. Ketika benda-benda itu terbakar, yang hilang sebenarnya adalah sebagian dari ingatan masyarakat.
Namun, bencana juga memperlihatkan sisi lain dari kehidupan masyarakat Sade. Dalam keadaan sulit, masyarakat tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan individu. Mereka membutuhkan satu sama lain. Semangat membantu, berkumpul, dan membangun kembali kehidupan menjadi bentuk nyata dari gotong royong. Di sinilah kebudayaan tidak hanya terlihat dari bentuk rumah atau pakaian tradisional, tetapi juga dari cara masyarakat menghadapi kesulitan bersama.
Ketangguhan masyarakat Sade justru terletak pada kemampuan mereka mempertahankan identitas tanpa menutup mata terhadap ancaman. Menjaga tradisi bukan berarti membiarkan masyarakat berada dalam risiko. Pelestarian budaya perlu berjalan bersama dengan kesadaran terhadap keselamatan, seperti kesiapan menghadapi kebakaran, penataan lingkungan, dan pengetahuan masyarakat mengenai penanganan bencana.
Desa Sade mengajarkan bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan di museum. Budaya hidup melalui manusia yang menjaganya setiap hari. Api mungkin dapat membakar sebuah rumah, tetapi kehilangan terbesar terjadi ketika masyarakat berhenti merasa bahwa rumah, tradisi, dan sejarahnya adalah bagian dari dirinya. Karena itu, menjaga Sade berarti menjaga bangunannya, tetapi lebih dari itu, menjaga ingatan, kebersamaan, dan keyakinan masyarakat Sasak bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di masa depan.
