FEATUREDSuara

Hustle Culture dan Erosi Makna Waktu Luang

Malam perlahan merangkak larut, namun layar-layar gawai di sekujur kota masih angkuh berpendar. Di sudut-sudut kedai kopi hingga di balik dinding kamar yang kedap, selalu ada siluet manusia yang menunduk mengetik sesuatu, mengejar tenggat, atau sekadar menggulir linimasa dengan sepasang mata yang menyimpan kelelahan purba. Jika disapa dan ditanya perihal kabarnya hari ini, jawabannya nyaris seragam: “Lagi banyak kerjaan,” atau “Sibuk banget nih.” Ada nada kebanggaan yang ganjil, sekaligus menyedihkan, dalam keluhan itu. Seolah-olah, menjadi sibuk adalah lencana kehormatan yang harus terus dipamerkan agar dunia mengakui eksistensi kita.

​Fenomena ini sering kita sebut sebagai hustle culture atau glorifikasi kesibukan. Saking lumrahnya, kebiasaan bekerja melampaui batas kewajaran kini dianggap sebagai standar dedikasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan burnout atau kelelahan mental akut sebagai fenomena stres kerja kronis yang gagal dikelola. Namun, peringatan medis ini sering kali tenggelam oleh bisingnya motivasi usang yang menuntut kita untuk terus produktif. Kita dijangkiti kecemasan kolektif; merasa bersalah ketika mengambil jeda, seolah tidak melakukan apa-apa adalah sebuah dosa besar di peradaban modern.

Kita telah sukarela menyerahkan diri untuk dikurung dalam apa yang disebut sosiolog Max Weber sebagai “sangkar besi” rasionalitas. Dalam sistem masyarakat hari ini, nilai seorang manusia tidak lagi ditakar dari kedalaman jiwanya, integritas, atau kejernihan pikirannya, melainkan dari seberapa efisien ia bekerja dan seberapa panjang daftar tugas yang berhasil diselesaikannya. Kesibukan telah bermutasi menjadi berhala baru. Mengambil jeda untuk sekadar bernapas, merenung, atau menatap langit-langit sering kali dihantui oleh bisikan kompetitif: Apakah saya tertinggal dari yang lain? Apakah saya kurang berguna?

​Ironi ini akan terasa semakin getir jika kita membedahnya melalui lintasan sejarah. Pada peradaban Yunani Kuno, waktu luang yang mereka sebut schole adalah penanda kemerdekaan yang paling paripurna. Ia adalah ruang esensial di mana manusia bebas dari tuntutan fisik untuk mulai berpikir, berdiskusi, dan mengasah kemanusiaannya. Pekerjaan fisik yang bersifat repetitif justru dipandang sebagai keharusan fana yang membelenggu kebebasan jiwa.

​Namun narasi zaman kini telah jungkir balik. Waktu luang hari ini bukan lagi sebuah tujuan, melainkan sekadar tempat kita memulihkan tenaga sejenak, semacam oli pelumas bagi mesin tubuh, agar esok hari kita siap untuk kembali dikonsumsi oleh rutinitas. Jeda tidak lagi dihormati sebagai ruang kontemplasi, melainkan ruang kosong yang dianggap cacat jika tidak diisi dengan sesuatu yang menghasilkan nilai material.

​Dalam laju peradaban yang terus dipaksa berlari ini, keterasingan sebagaimana yang pernah dibedah oleh Karl Marx tentang alienasi merayap secara halus dan membunuh perlahan. Budaya hustle tidak hanya mengasingkan manusia dari hasil keringatnya, tapi lebih mengerikan lagi: mengasingkan kita dari diri kita sendiri dan orang di sekitar. Relasi sosial perlahan direduksi menjadi transaksi belaka. Kawan lama dihubungi demi memperluas networking, dan kualitas obrolan diukur dari potensi keuntungan. Bahkan hobi yang murni untuk rekreasi kini dituntut agar menghasilkan uang. Kita melihat sesama bukan sebagai kawan, melainkan kompetitor dalam lomba yang tak jelas di mana letak garis akhirnya.

​Perlawanan paling radikal yang bisa kita lakukan di abad ini mungkin bukanlah dengan berteriak di jalanan, melainkan dengan keberanian untuk mengambil jeda. Berani untuk duduk diam tanpa memikirkan output pencapaian. Berani menolak glorifikasi bahwa manusia hanyalah mesin produksi yang pantang berkarat. Di tengah dunia yang terus berisik dan menuntut kita untuk terus bergerak, merayakan ketenangan dan merebut kembali kemerdekaan waktu luang adalah deklarasi paling lantang bahwa kita masih, dan akan selalu, menjadi manusia seutuhnya.

Penulis: Zarro Akbarur Rizki