FEATUREDPop

Perjalanan Michael Oktavia : Dari Manusia Silver sampai ke Dunia Model

Di persimpangan jalan, tubuh-tubuh berwarna perak sering kita lihat sebagai latar lalu lintas. Mereka berdiri diam, kadang bergerak patah-patah, menadahkan tangan pada kaca mobil yang tertutup. Kita menyebutnya manusia silver, sebuah istilah yang, sadar atau tidak, lebih sering berfungsi sebagai label daripada pengakuan atas kemanusiaan. Di ruang kota yang bergerak cepat, mereka hadir sebentar lalu dilupakan. Namun kisah Michael Oktavia memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa sebenarnya yang selama ini kita abaikan?

Michael adalah satu dari sekian banyak anak muda yang mencari hidup di jalanan Jakarta dengan menjadi manusia silver. Tubuhnya dicat perak, berdiri berjam-jam di bawah matahari, mengandalkan simpati pengendara. Pekerjaan itu lahir bukan dari pilihan bebas, melainkan dari keterbatasan: minim akses pendidikan, sempitnya lapangan kerja, dan kerasnya ekonomi kota. Seperti banyak lainnya, Michael adalah bagian dari statistik kemiskinan urban yang jarang dibaca dengan empati.

Segalanya berubah ketika sebuah video makeover dirinya viral di media sosial. Dalam hitungan hari, wajah yang sebelumnya tak diperhatikan tiba-tiba dilihat sebagai “potensi”. Struktur wajah, postur tubuh, dan karisma yang sebelumnya larut dalam debu jalanan, kini dibingkai ulang dalam estetika industri mode. Michael kemudian direkrut menjadi model, tampil di pemotretan profesional, bahkan berjalan di runway. Dari pinggir jalan ke pusat sorotan, dari recehan ke kontrak kerja.

Kisah ini sering dirayakan sebagai dongeng inspiratif: kerja keras yang berbuah manis, takdir yang berbalik arah, mimpi yang akhirnya menemukan jalannya. Dan memang, ada sisi optimisme yang patut diapresiasi. Michael membuktikan bahwa martabat manusia tidak pernah benar-benar hilang, meski lama tertutup stigma. Namun jika berhenti di sana, kita berisiko mereduksi kisah ini menjadi sekadar cerita sukses individual, sambil menutup mata pada persoalan struktural yang lebih besar.

Pertanyaannya bukan hanya mengapa Michael bisa “naik kelas”, tetapi mengapa pengakuan itu baru datang setelah tubuhnya diterjemahkan ulang oleh industri kreatif. Saat ia berdiri sebagai manusia silver, tubuh yang sama dianggap gangguan ketertiban, bahkan sasaran razia. Ketika tubuh itu masuk ke logika mode, difoto, diberi busana, dan ditempatkan di ruang prestise, ia berubah menjadi aset. Nilai manusia, lagi-lagi, ditentukan oleh konteks ekonomi yang membungkusnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kota bekerja. Ruang publik tidak netral; ia penuh hierarki. Mereka yang miskin boleh hadir, asal tidak terlalu terlihat. Ketika terlihat, mereka harus “berguna”, “menarik”, atau “menghibur”. Michael beruntung karena visibilitasnya berujung pada peluang. Namun ribuan manusia silver lain tetap berada di persimpangan yang sama, tanpa kamera, tanpa viralitas, tanpa jalan keluar.

Media sosial memainkan peran ambivalen dalam kisah ini. Di satu sisi, ia membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Di sisi lain, ia menciptakan logika seleksi yang kejam: siapa yang viral, dia yang diselamatkan. Siapa yang tidak, tetap terpinggirkan. Solidaritas pun sering kali bersifat sesaat, ramai ketika tren, senyap setelah algoritma bergeser.

Kisah Michael seharusnya tidak hanya menghangatkan hati, tetapi juga menggelisahkan pikiran. Ia memanggil kita untuk merefleksikan cara pandang terhadap kerja jalanan, terhadap kemiskinan, dan terhadap martabat manusia. Bahwa seseorang tidak perlu menjadi model terlebih dahulu untuk dianggap layak hidup dengan hormat. Bahwa tubuh yang dicat perak di jalanan sama berharganya dengan tubuh yang dibalut busana mahal di catwalk.

Lebih jauh, negara dan masyarakat perlu membaca kisah ini sebagai alarm, bukan pengecualian. Program penanganan kemiskinan urban tidak cukup dengan razia dan penertiban. Yang dibutuhkan adalah akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan ruang aman bagi anak muda untuk tumbuh tanpa harus mempertaruhkan tubuhnya di jalanan. Industri kreatif pun perlu bertanya: apakah ia hanya menunggu “bakat liar” yang kebetulan viral, atau mau terlibat aktif membuka akses bagi mereka yang selama ini terpinggirkan?

Michael Oktavia telah melangkah jauh dari persimpangan tempat ia dulu berdiri. Namun kisahnya belum selesai, bukan hanya tentang dirinya, melainkan tentang kita semua. Tentang cara kita memandang sesama, tentang siapa yang kita anggap layak dilihat, dan tentang keadilan sosial di kota yang kita huni bersama. Dari tubuh yang dicat perak, kita diajak bercermin: seberapa sering kita baru peduli setelah seseorang berubah rupa?

 

Valensiaulia Desi

Redaksi Waringindotco