Laku

Betapa Indahnya Piala Dunia, Tapi Tidak dengan Emisi Karbonnya

Piala Dunia selalu datang sebagai perayaan terbesar umat manusia. Ia melampaui batas bahasa, agama, ideologi, bahkan konflik politik. Ketika peluit pertama dibunyikan, miliaran pasang mata serentak mengarah ke lapangan hijau yang sama. Di sana ada kegembiraan, harapan, air mata, dan kisah-kisah yang akan dikenang selama puluhan tahun. Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara United States, Canada, dan Mexico menawarkan kemegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Turnamen ini menghadirkan 48 negara peserta, jumlah terbanyak sepanjang sejarah.

Namun, di balik gegap gempita tribun dan sorak-sorai penonton, ada persoalan lain yang jarang masuk dalam perbincangan para pecinta sepak bola yaitu jejak karbon.

Sepak bola memang tampak sederhana. Dua puluh dua pemain berlari mengejar bola selama sembilan puluh menit. Tetapi Piala Dunia bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pergerakan manusia dalam skala raksasa. Jutaan suporter bepergian melintasi benua, ribuan jurnalis berpindah dari satu kota ke kota lain, dan puluhan tim nasional melakukan perjalanan udara yang panjang untuk menjalani pertandingan.

Piala Dunia 2026 menghadirkan tantangan lingkungan yang lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya. Tiga negara tuan rumah berarti jarak antarkota penyelenggara menjadi sangat luas. Sebuah tim bisa saja bermain di Mexico City, kemudian terbang ribuan kilometer menuju Toronto, lalu kembali ke Amerika Serikat untuk pertandingan berikutnya. Hal yang sama juga terjadi pada para suporter yang ingin mengikuti perjalanan tim kesayangannya.

Pesawat menjadi tulang punggung mobilitas turnamen ini. Padahal, transportasi udara merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dalam sektor perjalanan. Semakin banyak penerbangan, semakin besar pula karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Ironisnya, semua itu terjadi demi sebuah pesta yang hanya berlangsung selama beberapa minggu.

Di sisi lain, stadion-stadion megah yang menjadi simbol kemajuan teknologi juga menyimpan persoalan tersendiri. Lampu raksasa yang menyala sepanjang malam, layar digital berukuran besar, pendingin ruangan, serta berbagai fasilitas modern membutuhkan energi dalam jumlah yang tidak sedikit. Ketika dunia sedang berusaha mengurangi ketergantungan pada energi fosil, olahraga terbesar di muka bumi justru menuntut konsumsi energi yang sangat besar.

Padahal, ancaman perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan sepak bola. Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas ekstrem semakin sering terjadi di berbagai wilayah Amerika Utara. Suhu yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kondisi pemain, kualitas pertandingan, hingga keselamatan para penonton yang memadati tribun. Cuaca yang tidak menentu juga mulai mengganggu kalender olahraga di berbagai negara.

Dengan kata lain, sepak bola sebenarnya sedang menghadapi lawannya sendiri. Bukan Argentina, Brasil, atau Prancis. Melainkan perubahan iklim yang perlahan mengubah cara manusia hidup dan beraktivitas.

Meski demikian, bukan berarti sepak bola harus diposisikan sebagai musuh lingkungan. Justru karena pengaruhnya yang begitu besar, sepak bola memiliki peluang menjadi bagian dari solusi. Piala Dunia dapat menjadi ruang kampanye global mengenai keberlanjutan lingkungan. Stadion dapat menggunakan energi terbarukan, pengelolaan sampah bisa diperbaiki, dan transportasi publik dapat diperkuat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Lebih dari itu, miliaran penggemar sepak bola dapat diajak memahami bahwa menjaga bumi tidak kalah penting dibanding mendukung tim kesayangan mereka.

Piala Dunia 2026 akan dikenang karena banyak hal. Mungkin karena gol-gol spektakuler, kejutan negara kecil yang menumbangkan raksasa sepak bola, atau kisah pemain yang menorehkan sejarah baru. Namun di luar semua itu, ada pertanyaan yang patut diajukan: berapa harga lingkungan yang harus dibayar untuk sebuah pesta olahraga global?

Sepak bola membutuhkan lapangan hijau. Dan lapangan hijau membutuhkan bumi yang tetap lestari. Kita boleh merayakan gol di stadion-stadion megah Amerika Utara, tetapi jangan sampai sorak kemenangan itu menenggelamkan suara alam yang sedang meminta perhatian.

Betapa indahnya Piala Dunia. Sayangnya, keindahan itu masih menyisakan bayang-bayang emisi karbon yang tidak sedikit. Dan mungkin, tantangan terbesar sepak bola masa depan bukanlah mencari juara baru, melainkan memastikan bahwa pesta terbesar dunia ini tetap dapat berlangsung tanpa mengorbankan planet yang menjadi rumah bersama.