Budaya Konsumtif dan Hilangnya Etos Kolektif
Dalam beberapa tahun terakhir, budaya konsumtif semakin menguat dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Konsumsi tidak lagi dipahami sebatas pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan telah bergeser menjadi sarana ekspresi diri, penanda status sosial, bahkan ukuran keberhasilan personal. Pergeseran ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari: dari cara berpakaian, pilihan gawai, hingga gaya hidup yang dipamerkan di ruang digital. Di titik ini, konsumsi tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga kultural dan simbolik.
Fenomena tersebut tidak lahir secara alamiah. Ia diproduksi oleh struktur sosial yang kompleks, mulai dari penetrasi kapitalisme global, ekspansi industri digital, hingga algoritma media sosial yang secara sistematis membentuk hasrat. Intensitas paparan iklan, konten gaya hidup, dan narasi kesuksesan berbasis kepemilikan menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dapat dibeli. Dalam konteks ini, individu didorong untuk terus mengonsumsi bukan karena kebutuhan riil, melainkan demi pengakuan sosial. Data-data sosial menunjukkan peningkatan signifikan pada konsumsi berbasis gaya hidup, khususnya di kalangan kelas menengah dan generasi muda, seiring meningkatnya akses terhadap platform digital dan layanan keuangan instan.
Masalahnya, budaya konsumtif ini tidak berdiri sendiri. Ia membawa konsekuensi sosial yang lebih dalam, salah satunya adalah melemahnya etos kolektif. Nilai-nilai seperti gotong royong, solidaritas sosial, dan kepedulian komunal perlahan tergeser oleh logika individualisme. Ketika identitas dibangun melalui kepemilikan, relasi sosial pun cenderung transaksional. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesama warga dalam komunitas, melainkan sebagai audiens, pembanding, atau bahkan kompetitor dalam arena simbolik.
Gejala ini tampak dalam berbagai ruang sosial. Di lingkungan perkotaan, misalnya, kohesi sosial melemah seiring menguatnya segregasi berbasis kelas dan gaya hidup. Partisipasi dalam kegiatan kolektif menurun, sementara energi sosial banyak terserap pada upaya mempertahankan citra diri. Bahkan di ruang pendidikan, logika konsumtif merembes ke cara mahasiswa memaknai pendidikan 2bukan lagi sebagai proses pembentukan kesadaran kritis, tetapi sebagai investasi individual demi mobilitas sosial.
Lebih jauh, budaya konsumtif juga memiliki implikasi etis dan ekologis. Konsumsi berlebihan berkontribusi pada eksploitasi sumber daya alam dan produksi limbah yang masif. Namun, dimensi ini sering luput dari kesadaran publik karena narasi konsumsi lebih menekankan kepuasan personal ketimbang tanggung jawab sosial. Di sinilah krisis etos kolektif menjadi nyata: kepentingan bersama dikorbankan demi kepuasan sesaat.
Kritik terhadap budaya konsumtif, karena itu, tidak cukup diarahkan pada individu semata. Persoalan ini bersifat struktural dan kultural. Diperlukan upaya membangun kembali kesadaran kolektif melalui literasi media, pendidikan kritis, dan penguatan nilai-nilai sosial yang menempatkan manusia bukan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai subjek etis dalam komunitas. Tanpa itu, masyarakat akan terus terjebak dalam siklus konsumsi yang menggerus solidaritas dan melemahkan daya hidup bersama.
