FEATUREDWawasan

Rosita Istiawan: Perempuan yang Menumbuhkan Harapan dari Tanah Gersang

Di sebuah kawasan perbukitan di Megamendung, Bogor, yang dulu dikenal sebagai tanah kering, berbatu, dan nyaris tak menjanjikan kehidupan, kini berdiri sebuah hutan hijau yang rimbun dan hidup. Burung-burung kembali bersarang, tanah menjadi lembap, mata air muncul perlahan, dan udara terasa sejuk. Apa yang hari ini tampak sebagai keajaiban alam itu sesungguhnya bukanlah hasil proyek besar, melainkan buah dari ketekunan seorang perempuan bernama Rosita Istiawan, seorang yang memilih menanam kehidupan ketika banyak orang hanya melihat kegersangan.

Dua puluh tahun lebih lalu, lahan tempat hutan itu kini tumbuh hanyalah hamparan tanah rusak. Aktivitas manusia, pembukaan lahan, dan eksploitasi tanpa kendali telah menjadikannya ruang yang tidak ramah bagi kehidupan. Air sulit ditemukan, tanah mengeras, dan hampir tak ada tanaman yang mampu tumbuh dengan baik. Banyak orang memandang wilayah itu sebagai lahan “tak berguna”. Namun bagi Rosita, tempat tersebut justru menyimpan kemungkinan. Ia melihat bukan apa yang sudah rusak, melainkan apa yang masih bisa dipulihkan.

Dengan langkah yang pelan tetapi pasti, Rosita mulai membeli sebidang kecil tanah itu. Ia menanam pohon demi pohon, tidak sekaligus, tidak dengan alat berat, dan tidak dengan ambisi cepat hasil. Ia memulai dari yang paling sederhana: menanam tanaman pangan di sela-sela pohon keras, merawat tanah dengan pupuk alami, dan membiarkan alam memulihkan dirinya secara bertahap. Tahun-tahun pertama adalah masa penuh keraguan. Banyak yang meremehkan usahanya, menyebutnya mustahil, bahkan ada yang menganggapnya sekadar mimpi seorang idealis.

Tetapi Rosita tidak mundur. Ia tidak menanam dengan logika bisnis jangka pendek, melainkan dengan kesabaran seorang perawat kehidupan. Musim demi musim dilalui. Pohon-pohon yang dulu masih setinggi dada kini tumbuh menjulang. Tanah yang semula keras mulai menyimpan air. Suara serangga, burung, dan hewan kecil kembali terdengar. Mereka datang seolah menemukan kembali rumah yang sempat hilang. Dari lahan puluhan hektare, ribuan pohon kini berdiri kokoh, menyusun kembali keseimbangan yang dulu direnggut.

Di balik keberhasilannya, perjuangan Rosita tidak selalu berjalan mulus. Tekanan datang bukan hanya dari alam, tetapi juga dari manusia. Ketika hutannya mulai terlihat bernilai, tawaran untuk membeli kayu pun berdatangan. Nilai ekonomi yang besar mulai mengintai. Namun bagi Rosita, hutan itu bukan sekadar aset dagang. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Dengan tegas, ia menolak setiap tawaran yang mengorbankan kelestarian. Baginya, hutan bukan untuk ditebang demi keuntungan, melainkan untuk dijaga agar terus memberi kehidupan.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Menjaga hutan berarti berhadapan dengan berbagai kepentingan: calo tanah, spekulan, bahkan ancaman yang kadang membuat ngeri. Namun Rosita tetap berdiri di tempatnya. Ia percaya bahwa alam yang dirawat dengan kasih tidak akan mengkhianati manusia. Keberanian inilah yang kemudian membuat banyak orang menjulukinya sebagai perempuan yang berwatak kuat, lembut dalam merawat, tegas dalam menjaga.

Perlahan, hutan yang ia bangun bukan hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga ruang belajar. Anak-anak sekolah, mahasiswa, relawan, dan masyarakat sekitar mulai datang untuk belajar tentang pertanian organik, pemulihan tanah, dan keseimbangan ekosistem. Rosita membuka hutannya bukan sebagai tempat wisata komersial, melainkan sebagai ruang edukasi. Di sanalah orang-orang belajar bahwa mencintai alam bukan sekadar slogan, melainkan kerja panjang yang menuntut komitmen.

Yang membuat kisah Rosita semakin bermakna adalah pilihannya untuk tidak menjadikan hutan itu sebagai warisan keluarga semata. Ia ingin hutan tersebut menjadi milik semesta, dikelola sebagai ruang bersama melalui yayasan. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah satu mata rantai dalam siklus kehidupan yang panjang. Yang ia bangun hari ini harus tetap hidup untuk generasi yang belum lahir. Dalam sikap ini, Rosita menunjukkan bahwa cinta pada alam selalu melampaui kepentingan pribadi.

Di tengah krisis ekologi yang melanda banyak wilayah Indonesia, banjir, longsor, kekeringan, dan hilangnya ruang hidup, kisah Rosita menjadi semacam perlawanan sunyi terhadap logika perusakan. Ia tidak berteriak di podium politik, tidak tampil sebagai aktivis dengan spanduk besar, tetapi bekerja dengan tangannya sendiri, menanam, merawat, dan menjaga. Ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebagai perempuan, peran Rosita juga menantang batas-batas sosial yang sering menempatkan perempuan di pinggir urusan lingkungan dan pengelolaan lahan. Ia menunjukkan bahwa keberanian, visi ekologis, dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh keteguhan hati. Dalam kesunyian hutan yang ia rawat, Rosita menghadirkan wajah lain dari kepemimpinan: kepemimpinan yang tidak menaklukkan, tetapi memulihkan.

Lebih dari sekadar kisah keberhasilan menghijaukan lahan, perjalanan Rosita adalah kisah tentang harapan. Harapan bahwa bumi yang terluka masih bisa disembuhkan. Harapan bahwa manusia masih mampu hidup selaras dengan alam jika mau belajar menahan diri. Harapan bahwa nilai-nilai kasih, kesabaran, dan tanggung jawab masih memiliki tempat di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dengan obsesi pada keuntungan.

Hari ini, Hutan Organik Megamendung berdiri sebagai saksi bisu dari kesetiaan seorang perempuan pada kehidupan. Setiap daun yang bergoyang, setiap mata air yang mengalir, dan setiap burung yang kembali bersarang adalah kesaksian bahwa tanah gersang pun bisa menjadi ruang subur bila disentuh dengan cinta yang tidak setengah-setengah.

Rosita Istiawan telah menanam lebih dari sekadar pohon. Ia menanam keyakinan bahwa manusia dan alam bukanlah dua entitas yang saling bermusuhan, melainkan dua sahabat yang saling membutuhkan. Dari tangan seorang perempuan yang tekun, harapan itu tumbuh perlahan, akar demi akar, tunas demi tunas hingga menjadi hutan yang kini memberi kehidupan bagi banyak makhluk, termasuk manusia.