FEATUREDKhutbah

Mengapa Agama Perlu Bicara soal Iklim dan Keadilan bagi Generasi Mendatang

Perubahan iklim sering dibicarakan dalam bahasa sains: grafik suhu, laporan emisi, atau target netral karbon. Namun di balik angka-angka itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih mendasar, pertanyaan tentang tanggung jawab, keadilan, dan masa depan manusia. Siapa yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bumi hari ini? Dan siapa yang paling menanggung dampaknya kelak? Di titik inilah agama tidak bisa terus diam. Iklim bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal keadilan bagi generasi yang belum lahir.

Iklim sebagai Persoalan Moral, Bukan Sekadar Teknis

Selama ini, krisis iklim kerap diposisikan sebagai persoalan teknis yang bisa diselesaikan dengan inovasi teknologi dan kebijakan publik. Padahal, perubahan iklim juga mencerminkan cara manusia memandang alam: sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang hidup bersama. Ketika hutan dibabat, laut tercemar, dan udara kian sesak, yang terjadi bukan hanya kerusakan ekosistem, tetapi juga keretakan etika.

Agama memiliki bahasa moral yang kuat untuk membaca situasi ini. Hampir semua tradisi keagamaan mengajarkan amanah, tanggung jawab, dan larangan merusak ciptaan. Dalam konteks iklim, kerusakan lingkungan bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kegagalan moral kolektif. Ketika generasi hari ini menikmati pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan keberlanjutan bumi, sesungguhnya kita sedang memindahkan beban krisis kepada generasi mendatang.
Di sinilah agama perlu bicara: untuk mengingatkan bahwa kemajuan yang merusak masa depan bukanlah kemajuan sejati. Agama berfungsi sebagai suara nurani yang mempertanyakan arah pembangunan, bukan sekadar merestui apa yang dianggap “perlu” oleh logika ekonomi.

Keadilan Iklim dan Tanggung Jawab Antar Generasi

Krisis iklim juga adalah persoalan keadilan. Mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi karbon sering kali justru menjadi pihak yang paling terdampak. Masyarakat pesisir menghadapi naiknya permukaan laut, petani kecil berhadapan dengan cuaca yang tak menentu, dan anak-anak di masa depan harus hidup di dunia yang lebih panas dan lebih tidak stabil.

Keadilan antar generasi menjadi isu kunci. Generasi mendatang tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan hari ini, tetapi merekalah yang akan menanggung konsekuensinya. Dari sudut pandang etika agama, ini adalah ketidakadilan serius. Mengambil manfaat hari ini sambil meninggalkan kerusakan untuk esok hari bertentangan dengan prinsip tanggung jawab dan kasih terhadap sesama, termasuk sesama yang belum lahir.

Agama memiliki peran penting untuk menjembatani kesenjangan ini. Dengan bahasa iman, agama dapat mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang “kita hari ini”, tetapi juga tentang mereka yang akan datang. Menjaga bumi berarti menjaga hak hidup generasi mendatang untuk mendapatkan air bersih, pangan yang layak, dan lingkungan yang aman.

Dari Kesadaran Iman ke Tindakan Nyata

Berbicara soal iklim tidak berarti agama harus berubah menjadi lembaga teknokratis. Peran utama agama justru terletak pada pembentukan kesadaran dan keberanian moral. Dari mimbar, ruang ibadah, dan komunitas keagamaan, agama dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman, bukan isu tambahan.

Di banyak tempat, kesadaran ini mulai diterjemahkan dalam tindakan nyata: gerakan penghijauan berbasis komunitas, pendidikan lingkungan di lembaga keagamaan, hingga sikap kritis terhadap model pembangunan yang merusak. Tindakan-tindakan ini mungkin tampak kecil, tetapi memiliki dampak simbolik yang besar. Ia menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada doa, tetapi bergerak dalam kepedulian sosial dan ekologis.

Lebih jauh, agama juga dapat berperan sebagai kekuatan moral yang menekan pembuat kebijakan. Ketika suara agama berpihak pada keadilan iklim, ia dapat menjadi penyeimbang terhadap kepentingan ekonomi jangka pendek. Agama mengingatkan bahwa tidak semua yang menguntungkan itu benar, dan tidak semua yang sah secara hukum itu adil secara moral.

Valensiaulia Desi

Redaksi Waringindotco