Menemukan Keseimbangan antara Tuhan, Alam, dan Manusia
Peran manusia di muka bumi bukan hanya sebatas menempati saja. Bahkan manusia bukan tinggal di bumi melainkan hidup di bumi. Padahal manusia memiliki peran yang sangat penting yakni memelihara alam dengan sebaik mungkin. Seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt bahwa terciptanya alam ini agar manusia lebih mengenal dan dekat melalui ciptaanya. Hal ini sangat disayangkan ketika manusia berbuat semena-mena di muka bumi. Banyak hal yang harusnya tidak dilakukan oleh manusia di muka bumi atas dasar memenuhi keinginan dan memanfaatkan alam dengan semena-mena. Contohnya di daerah ibukota ratarata masih dikatakan rawan banjir dan longsor ditambah dengan banyaknya penduduk dan mobilisasi yang cukup padat menimbulkan berbagai polusi yang berdampak kepada kesehatan.
Krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan tetapi, krisis spiritual dan moral manusia. Banyak sekali yang sudah diajarkan oleh agama kepada manusia untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman di muka bumi tanpa adanya pengrusakan dan memanfaatkan alam. Bahkan, keterputusan relasi antara manusia dengan Allah dan alam sebagai akar krisis ekologi. Hal ini yang menjadi agama dan teologi selama ini terabaikan dalam wacana lingkungan hidup. Sebab, penciptaan alam bukan sekedar sumber daya, tetapi bagian dari ciptaan yang sakral untuk memberikan sinyal kepada manusia bahwa untuk mengenal dan dekat dengan Allah melalui dari ciptaanNya.
Dengan adanya pandangan ekoteologi ini memberikan suasana baru di era modernisasi yang cukup sering menggunakan teknologi dan memanfaatkan alam dapat menambah wawasan baru tentang keseimbangan antara Tuhan, alam, dan manusia. Dimana ekoteologi ini merupakan cabang teologi yang menafsir ulang hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Pemelihara Alam
Alam ada karena penciptaan dari sang pencipta. Hal ini didasari oleh kalam Allah yang menjelaskan bahwa alam dicipta karena agar mengenal kepada-Ku. Pastinya alam diciptakan untuk menguatkan keimanan seorang untuk meyakini bahwa alam ini harus dijaga dan dilestarikan bersama. Selain alam diciptakan pastinya Allah sebagai pemelihara, yang tujuannya untuk keberlangsungan hidup manusia.
Allah juga tidak hanya menciptakan tetapi juga memelihara, mengatur, dan menyeimbangkan seluruh ciptaan-Nya agar berjalan dengan penuh harmoni. Seperti yang Allah tegaskan pada kitab Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 164 yang artinya “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang bahtera yang berlayar di laut yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannnya Dia menghidupkan bumi setelah mati, dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, semua itu sungguh merupakan tanda-tanda bagi kaum yang mengerti”
Ayat tersebut menjelaskan dengan begitu jelasnya bahwa Allah sudah mendesign alam dengan sebaik mungkin. Tidak ada yang tertinggal apapun. Semua diatur dengan sedemikian rupa untuk semua makhluknya.
Rumah Bersama
Allah menciptakan alam tidak ada hal selain memiliki tujuan yang pasti. Penatan yang sungguh menawan akan membawa keindahan disetiap sudutnya. Tanpa disadari pula, Allah memberikan semuanya kepada manusia untuk menjadi rumah yang harus dijaga dan dilestarikan bersama. Bukan hanya tinggal namun, lebih kepada hidup bersama, hidup berdampingan untuk sama-sama memberikan kebermanfaatan.
Pastinya alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan soal keinginan yang terus menerus menggerus dan merusak ekosistem yang ada. Hal ini memberikan dampak yang sangat kurang baik bagi alam, sehingga menimbulkan berbagai masalah hingga bencana yang datang. Sesuai dengan lirik yang pernah
dinyanyikan oleh Ebiet G.Ade dalam liriknya yang dibuat
Barangkali di sana ada jawabnya,
mengapa di tanahku terjadi bencana,
mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Seiring berjalannya waktu, ternyata lirik tersebut sesuai dengan isu-isu terkini yang seharusnya alam menjadi rumah untuk makhluk namun, hanya menjadi rumah yang terus dimanfaatkan dengan semena-mena.
Manusia Pembawa Harmoni
Pembawa harmoni memang harus dari peran manusia. Karena sesuai dengan yang difirmankan dalam kitab Al Quran bahwa “Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain beribadah kepada-Ku.” Ayat tersebut sangat jelas bahwa Allah memerintahkan kepada golongan manusia dan jin untuk beribadah. Tujuan yang sangat jelas inilah yang seharusnya menjadi dasar bagi manusia era sekarang. Dengan adanya perintah untuk beribadah pastinya manusia akan takut untuk berbuat semena-mena. Berbuat semena-mena seakan milik sendiri tanda bahwa kurang bersyukur sudah Allah bangun alam yang seindah ini untuk dijaga oleh manusia.
Manusia pastinya menjadi figur yang sangat penting. Kenapa demikian ? Karena dengan adanya manusia maka, terdapat kehidupan yang selalu harmoni. Seperti Nabi Muhammad Saw diutus dimuka bumi memiliki tujuan yang mulia yaitu menjadi uswah atau teladan bagi manusia. Keteladanan Nabi Muhammad Saw memberikan pelajaran yang harus dipelajari bahwa manusia hidup di rumah yang harus hidup bersama bukan hanya sebatas tinggal bersama.
Keharmonian itu muncul dari keseimbangan antara Allah (Tuhan), manusia, dan alam. Manusia harus bisa menghargai ciptaan Allah dan manusia juga harus memiliki rasa takut untuk berbuat semena-mena. Hal inilah yang akan membawa paradigma ekoteologi lebih berkembang dan dilakukan dengan harmoni tanpa ada rasa semena-mena dalam hidup di dunia.
