Konser Wang Leehom dan Pergeseran Estetika Panggung Musik
Pada pertengahan musim tur musiknya, penyanyi dan musisi internasional Wang Leehom menghadirkan sebuah momen yang tak biasa dalam konsernya Best Place Tour di Chengdu, Tiongkok: penari-penari bukan manusia, melainkan robot humanoid yang tampil bersamaan dengannya di atas panggung. Berita tentang robot-robot ini, yang mampu bergerak sinkron dengan musik, mengikuti koreografi, dan bahkan melakukan gerakan salto, menyebar cepat di media sosial serta menjadi sorotan global. Tidak hanya karena keunikannya, tetapi juga karena fenomena ini menyentuh persimpangan antara seni pertunjukan, teknologi robotik, dan pengalaman estetis penonton modern.
https://vt.tiktok.com/ZS5S3DdBK/
Menurut laporan media, robot-robot tersebut diproduksi oleh Unitree Robotics (model G1), sebuah perusahaan yang terkenal dengan pengembangan robot mobilitas tinggi. Robot-robot itu dilengkapi dengan sekitar dua puluh tiga motor sendi yang memungkinkan variasi gerakan yang kompleks dan presisi yang tinggi. Dengan daya baterai sekitar dua jam, robot-robot ini mengikuti irama musik, berbaur dengan estetika panggung, dan secara visual menghadirkan sesuatu yang baru dalam konteks konser musik populer. Elon Musk bahkan sempat menyebut performa tersebut “mengesankan,” sebuah komentar yang kemudian memperluas jangkauan perhatian terhadap fenomena ini.
Jika ditelaah, penggunaan robot di panggung konser bukan sekadar permainan pinggiran yang aneh. Ia menunjukkan perubahan paradigma dalam estetika pertunjukan. Secara tradisional, seni panggung, terutama tarian merupakan ekspresi yang lahir dari tubuh manusia: medium yang mampu mengekspresikan emosi, intensitas simbolik, dan interaksi antar-individu secara langsung. Ketika robot mengambil peran performatif itu, ada pertanyaan fundamental: apa yang sebenarnya menjadi sumber makna dalam pertunjukan? Apakah makna itu terletak pada gerakan itu sendiri, atau pada pengalaman afektif yang dialami oleh penari manusia?
Robot yang tampil di konser Wang Leehom bergerak berdasarkan algoritma kontrol motorik, bukan pengalaman sadar. Ia meniru ritme dan bentuk gerak yang telah diprogram, bukan merespon spontanitas musikal atau emosi yang muncul saat pertunjukan berlangsung. Dalam istilah kajian seni pertunjukan kontemporer, fenomena ini mendekati apa yang bisa disebut sebagai post-human performance di mana subjek artistik tidak lagi eksklusif manusia, tetapi merupakan hibrid antara manusia dan mesin. Meskipun demikian, perlu ditegaskan bahwa robot tetap merupakan medium yang dimediasi: kreativitas dan konsep koreografi tetap berasal dari manusia, baik dalam desain gerakan maupun integrasi teknologi ke dalam skenario panggung.
Dari sudut industri hiburan, hadirnya robot dalam konser bukan hanya soal estetika baru, tetapi juga soal strategi kapitalisasi teknologi. Media sosial berperan besar dalam mempercepat penyebaran video dan diskusi tentang konser tersebut. Reaksi terhadap video-video itu, termasuk dari figur teknologi seperti Elon Musk, memperlihatkan bagaimana pertunjukan musik kini sangat bergantung pada momentum viral untuk menciptakan perhatian publik. Robot di panggung menjadi bukan hanya elemen pertunjukan, melainkan alat pemasaran yang efektif.
Namun, di balik kekaguman terhadap keindahan visual dan kecanggihan teknis, terdapat kecemasan yang mulai muncul di kalangan netizen: bisakah teknologi akan menggantikan pekerja seni manusia? Meskipun untuk saat ini robot belum menunjukkan kapasitas untuk menggantikan kreatifitas, improvisasi, atau interpretasi musikal manusia, kecemasan tersebut bukan hal trivial. Ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang otomatisasi tenaga kerja, yang seringkali menjadi isu struktur ekonomi dan budaya di banyak sektor, termasuk seni pertunjukan.
Selain itu, pemberitaan media cenderung terfokus pada aspek sensasional yaitu salto robot dan respons publik, tanpa membedah implikasi sosial yang lebih dalam. Jarang media mengangkat pertanyaan kritis tentang bagaimana integrasi teknologi ini memengaruhi pengalaman estetis penonton atau kesejahteraan komunitas seni. Pertunjukan seperti ini seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi ulang hubungan antara teknologi dan seni, bukan sekadar menjadi tontonan eksotik.
Konser Wang Leehom dengan robot penari menunjukkan bahwa kita berada pada titik persimpangan: di satu sisi, teknologi menawarkan kemungkinan estetika baru yang menakjubkan; di sisi lain, ia menantang kita untuk mempertimbangkan kembali peran manusia dalam ekosistem seni. Robot di panggung bukan sekadar mesin, melainkan cermin yang memantulkan kecenderungan kita terhadap inovasi, sekaligus kekhawatiran akan pergeseran peran manusia di masa depan. Tantangan ke depan adalah menemukan cara untuk mengintegrasikan teknologi dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan memberi ruang bagi kreatifitas manusia berkembang tanpa tergantikan sepenuhnya oleh algoritma.
