Carnivore Diet, Tubuh Anak Muda, dan Godaan Jalan Pintas
Beberapa waktu terakhir, lini masa media sosial terutama TikTok mendadak ramai oleh satu pola makan yang terdengar ekstrem tapi menggoda: carnivore diet. Pola ini menyingkirkan hampir semua jenis makanan selain produk hewani, terutama daging. Tanpa nasi, tanpa sayur, tanpa buah. Dalam video-video singkat, diet ini digambarkan sebagai solusi instan untuk perut buncit dan berat badan berlebih. Tubuh yang berubah cepat dijadikan bukti, sementara proses panjang hidup sehat terasa seperti sesuatu yang bisa dilewati begitu saja.
Mengapa Carnivore Diet Terasa “Bekerja”?
Tidak bisa dimungkiri, bagi sebagian orang carnivore diet memang memberikan hasil yang terasa cepat. Penurunan berat badan terjadi dalam waktu singkat, rasa kenyang lebih lama, dan sebagian pelaku mengaku energinya meningkat. Secara fisiologis, hal ini masuk akal. Ketika asupan karbohidrat dihentikan total, tubuh kehilangan simpanan glikogen dan air, sehingga berat badan turun drastis di awal. Protein tinggi juga dikenal mampu menekan nafsu makan.
Selain itu, bagi individu tertentu misalnya yang sensitif terhadap gula atau karbohidrat olahan pengurangan karbohidrat bisa membantu mengontrol asupan kalori secara tidak sadar. Dalam konteks ini, carnivore diet terasa “efektif” karena menyederhanakan pilihan makan. Tidak perlu menghitung kalori, tidak perlu banyak aturan. Sederhana, tegas, dan memberi ilusi kontrol penuh atas tubuh.
Manfaat ini sering kali menjadi pintu masuk popularitas carnivore diet, terutama di kalangan anak muda yang lelah dengan diet konvensional yang terasa rumit dan penuh larangan setengah-setengah.
Antara Manfaat Jangka Pendek dan Batas Tubuh
Namun, manfaat yang dirasakan tidak otomatis berarti cocok untuk semua orang atau aman dalam jangka panjang. Tubuh manusia bekerja dengan sistem yang kompleks. Ia tidak hanya membutuhkan energi dan protein, tetapi juga serat, mikronutrien, dan keragaman asupan untuk menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme.
Diet berbasis daging sepenuhnya menghilangkan serat, padahal serat berperan penting dalam menjaga kesehatan usus dan keseimbangan mikrobiota. Dalam jangka pendek, tubuh mungkin beradaptasi. Namun dalam jangka panjang, penghilangan total kelompok makanan tertentu berpotensi memunculkan masalah baru, mulai dari gangguan pencernaan hingga risiko kardiometabolik.
Masalahnya, di media sosial, batas-batas ini jarang dibicarakan. Yang muncul adalah narasi keberhasilan personal yang digeneralisasi. Pengalaman individu diperlakukan seolah kebenaran universal. Di titik ini, sains sering kalah oleh testimoni. Siapa pun yang mempertanyakan dianggap tidak paham atau terlalu teoritis, seakan tubuh cukup dibuktikan lewat kamera.
Padahal, yang bekerja pada satu tubuh belum tentu bekerja pada tubuh lain. Di sinilah pentingnya membaca carnivore diet bukan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai praktik yang sangat kontekstual.
Ketika Algoritma Mengatur Pola Makan
Popularitas carnivore diet juga tidak bisa dilepaskan dari cara kerja algoritma media sosial. Konten yang ekstrem, berbeda, dan menjanjikan hasil cepat cenderung lebih mudah viral. Diet seimbang jarang menarik perhatian karena tidak dramatis. Tidak ada kejutan, tidak ada transformasi instan.
Dalam logika ini, diet berubah menjadi komoditas konten. Tubuh menjadi etalase. Yang cocok akan terus bicara, yang tidak cocok menghilang dari layar. Dampaknya, publik menerima gambaran yang timpang: seolah carnivore diet selalu berhasil dan nyaris tanpa risiko.
Di sisi lain, ada aspek yang hampir tidak pernah disentuh: dampak ekologis dan etika konsumsi daging berlebihan. Normalisasi pola makan tinggi daging terjadi di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Tubuh dipisahkan dari ekosistem, seakan pilihan makan hanya berdampak pada lingkar pinggang, bukan pada bumi yang menopangnya.
Carnivore diet bukan sepenuhnya ilusi, tetapi juga bukan jawaban universal. Ia bisa bekerja untuk sebagian orang, dalam konteks tertentu, dan dalam durasi terbatas. Masalah muncul ketika manfaat jangka pendek diangkat menjadi kebenaran mutlak, lalu dipasarkan tanpa kritik.
Di tengah budaya instan dan tekanan estetika tubuh, godaan jalan pintas memang besar. Namun tubuh bukan proyek konten, dan kesehatan bukan soal viral atau tidak. Mungkin yang lebih penting bukan mencari diet paling ekstrem, tetapi belajar mendengarkan tubuh, membaca pengetahuan secara kritis, dan tidak menyerahkan sepenuhnya keputusan makan kita pada algoritma.
