FEATUREDSuara

Antara Tekanan, Resistensi, dan Ironisnya Diplomasi

Beberapa minggu terakhir, dunia kembali dipenuhi berita tentang ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Banyak orang melihat ini hanya sebagai konflik antarnegara biasa yang jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal sebenarnya yang sedang terjadi jauh lebih besar dari sekadar saling ancam atau serang balasan. Ini soal bagaimana dunia modern ternyata masih sangat mudah kembali ke logika lama, logika kaku di mana kekuatan dibalas kekuatan, tekanan dibalas tekanan, lalu perdamaian hanya menjadi kalimat formal di forum internasional.

Konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 ini telah berlangsung hampir sebulan. Lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara AS-Israel di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, serangan balasan Iran melalui drone dan rudal telah menewaskan sedikitnya 1.270 warga Iran, 486 warga Lebanon, serta puluhan personel militer AS dan warga sipil di negara-negara Teluk.

Data dari Stimson Center mengungkapkan bahwa peperangan ini justru lebih banyak merugikan negara-negara Arab sekutu AS. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) telah menjadi sasaran 4.391 serangan drone dan rudal Iran sejak hari pertama perang, setara dengan 83 persen dari total serangan Iran sejauh ini.

Ketika semua pihak merasa memiliki alasan yang paling benar, ruang untuk berpikir jernih justru semakin sempit. Setiap tindakan dianggap pembelaan, dan setiap respons dibungkus narasi keamanan. Akhirnya dunia melihat konflik bukan sebagai upaya mencari solusi, tetapi sebagai adu siapa yang paling keras menunjukkan kekuatan.

Inilah sisi paling ironis dari politik internasional hari ini. Dunia sudah masuk era digital, teknologi militer berkembang sangat cepat, komunikasi global begitu terbuka, tetapi cara menyelesaikan konflik masih terasa kuno. Seolah-olah kekuatan senjata masih dianggap bahasa paling efektif untuk didengar. Padahal sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa perang hampir tidak pernah benar-benar menyelesaikan akar masalah.

Konflik ini juga memperlihatkan bahwa dampaknya tidak pernah kecil. Pasar energi terguncang, harga minyak mentah Brent melambung 5,7 persen menjadi USD108,01 per barel. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebut situasi ini sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global”. Konflik hampir melumpuhkan pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.

Yang sering membuat saya berpikir adalah bagaimana masyarakat sipil selalu menjadi pihak yang paling cepat merasakan akibatnya, padahal mereka tidak pernah duduk di meja pengambilan keputusan. Saat pemimpin negara berbicara soal strategi militer, rakyat justru hidup dalam kecemasan, menghadapi kehilangan rasa aman, kesulitan ekonomi, bahkan masa depan yang tidak jelas. OCHA menyatakan bahwa serangan berdampak pada lebih dari 1.000 lokasi di Iran, menunjukkan kerusakan pada infrastruktur sipil di area permukiman padat penduduk.

Sebagai pelajar, saya merasa penting untuk tidak melihat konflik seperti ini hanya dari judul berita atau potongan narasi media sosial. Di balik permukaan yang tampak sederhana, siapa menyerang siapa, ada kepentingan politik, sejarah panjang, dan perebutan posisi global yang jauh lebih rumit.

Saat ini, suara negosiasi mulai terdengar. AS dilaporkan telah mengirimkan daftar 15 poin tindakan kepada Iran melalui Pakistan. Namun di balik upaya diplomatik ini, perselisihan justru muncul antara AS dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa proposal tersebut sedang ditinjau, namun seorang pejabat senior Iran menyebutnya “sepihak dan tidak adil”. Tanggapan resmi Iran mencakup tuntutan penghentian serangan, jaminan tidak akan terjadi perang lagi, kompensasi kerugian, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Kadang dunia memang terlihat bergerak maju, tetapi dalam banyak keputusan politik, pola lama tetap berulang. Negara besar masih percaya bahwa tekanan bisa menghasilkan kepatuhan. Negara yang ditekan justru menunjukkan resistensi. Dan ketika dua logika itu bertemu, dunia selalu berdiri di tepi situasi yang rawan.

Bagi saya, konflik ini juga menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sesuatu yang otomatis ada hanya karena dunia punya banyak lembaga internasional. Perdamaian butuh kemauan politik, keberanian menahan ego negara, dan kemampuan melihat bahwa stabilitas tidak bisa dibangun terus-menerus lewat ancaman.

Ketegangan ini menunjukkan satu hal: dunia modern belum sepenuhnya keluar dari kebiasaan lama menjadikan kekuatan sebagai alat utama menunjukkan posisi. Tatanan lama di kawasan sedang berubah. Amerika Serikat tidak lagi dapat mengendalikan situasi sendirian seperti di masa lalu. Iran juga tidak mencari kemenangan militer yang cepat, melainkan berusaha secara bertahap mengubah aturan permainan. Jika pola ini terus dipelihara, dunia hanya akan semakin sering hidup dalam situasi tegang, di mana diplomasi kalah cepat dari suara kepentingan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *