Biji Nangka sebagai Limbah Organik Bernilai dan Ramah Lingkungan
Dalam praktik konsumsi sehari-hari, buah nangka dikenal luas sebagai bahan pangan yang digemari, sementara bijinya sering kali tidak memperoleh perhatian yang sama. Setelah daging buah dikonsumsi, biji nangka kerap diperlakukan sebagai sisa yang tidak memiliki fungsi lanjutan. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa dalam sistem pangan rumah tangga, masih terdapat bahan yang terabaikan bukan karena tidak memiliki kandungan gizi, melainkan karena belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini berangkat dari kondisi tersebut dengan menempatkan biji nangka sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kerupuk nasi, sebuah produk pangan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan ini, biji nangka tidak lagi diposisikan sebagai sisa konsumsi, tetapi sebagai bahan yang diuji secara ilmiah kontribusinya terhadap nilai gizi produk pangan.
Biji Nangka sebagai Bahan Terabaikan dengan Potensi Gizi Nyata
Hasil mini riset yang saya asusmsikan menunjukkan bahwa biji nangka memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kadar karbohidrat pada kerupuk nasi. Pada perlakuan tanpa penambahan tepung biji nangka (P0), kadar karbohidrat yang dihasilkan sebesar 76,55%. Sementara itu, pada perlakuan dengan penambahan tepung biji nangka sebesar 35 g (P1), kadar karbohidrat meningkat menjadi 81,65%, dan pada penambahan 40 g (P2) meningkat lebih lanjut hingga 83,46%. Data ini menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara jumlah tepung biji nangka yang ditambahkan dan peningkatan kadar karbohidrat produk akhir.
Peningkatan tersebut tidak terlepas dari kandungan pati yang cukup tinggi dalam biji nangka. Proses pengolahan biji nangka menjadi tepung, yang meliputi pengeringan dan penggilingan, terbukti mampu mengoptimalkan kandungan karbohidratnya. Dengan demikian, biji nangka tidak hanya layak dikonsumsi, tetapi juga berfungsi sebagai bahan tambahan yang berkontribusi langsung terhadap nilai energi produk pangan.
Namun, temuan ini juga menunjukkan bahwa selama ini biji nangka belum dimanfaatkan sesuai dengan potensinya. Padahal, berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan menggunakan metode Lane–Eynon, biji nangka mampu meningkatkan komposisi karbohidrat secara signifikan. Hal ini memperlihatkan adanya peluang besar untuk mengembangkan bahan yang selama ini dianggap sisa menjadi bagian dari inovasi pangan berbasis bahan lokal.
Pemanfaatan Nasi Sisa dan Biji Nangka dalam Optimalisasi Bahan Pangan
Selain biji nangka, mini riset ini juga menggunakan nasi sisa yang masih layak konsumsi sebagai bahan utama pembuatan kerupuk nasi. Pemilihan nasi sisa sebagai bahan baku didasarkan pada kenyataan bahwa nasi merupakan makanan pokok yang sering kali tersisa dalam konsumsi rumah tangga. Apabila tidak dimanfaatkan kembali, nasi sisa berpotensi terbuang dan tidak memiliki nilai tambah.
Nasi sisa dikombinasikan dengan tepung biji nangka dan tepung tapioka dalam jumlah yang terkontrol. Setiap perlakuan menggunakan 500 g nasi, dengan variasi penambahan tepung biji nangka dan jumlah tepung tapioka yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi bahan tersebut tidak hanya menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi, tetapi juga memiliki nilai gizi yang meningkat, khususnya dari sisi kandungan karbohidrat.
Penggunaan nasi sisa dan biji nangka secara bersamaan memperlihatkan bahwa bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat saling melengkapi dalam satu produk pangan. Nasi berperan sebagai bahan dasar, sementara tepung biji nangka memperkaya kandungan karbohidrat. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi bahan pangan tidak selalu memerlukan bahan baru, tetapi dapat dilakukan dengan memaksimalkan bahan yang sudah tersedia di sekitar masyarakat.
Meskipun demikian, riset ini juga memberikan batasan yang jelas bahwa nasi sisa yang digunakan harus masih layak konsumsi. Hal ini penting untuk menjaga keamanan pangan dan mencegah risiko kesehatan. Dengan adanya batasan tersebut, pemanfaatan bahan sisa tetap berada dalam kerangka kehati-hatian dan tidak mengorbankan kualitas produk.
Proses Pengolahan Sederhana dan Implikasinya terhadap Pengembangan Produk
Proses pembuatan tepung biji nangka dan kerupuk nasi dalam penelitian ini dilakukan dengan metode yang relatif sederhana. Biji nangka dikeringkan dengan penjemuran, kemudian digiling dan diayak hingga menjadi tepung. Kerupuk nasi dibuat melalui tahapan perendaman, pengolahan adonan, pengukusan, pemotongan, penjemuran, dan penggorengan. Seluruh proses ini dapat dilakukan tanpa peralatan khusus dan dapat diterapkan pada skala rumah tangga.
Meskipun menggunakan proses yang sederhana, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk yang dihasilkan tetap baik. Analisis statistik menggunakan ANOVA satu arah menunjukkan bahwa penambahan tepung biji nangka berpengaruh sangat signifikan terhadap kadar karbohidrat kerupuk nasi (p < 0,001). Nilai eta-squared sebesar 0,965 menunjukkan bahwa variasi perlakuan penambahan tepung biji nangka menjelaskan sebagian besar variasi kadar karbohidrat produk. Uji lanjut Duncan juga menunjukkan bahwa setiap perlakuan berbeda secara signifikan satu sama lain.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pengolahan sederhana tidak serta-merta menghasilkan produk dengan kualitas rendah. Sebaliknya, dengan formulasi yang tepat, bahan sederhana dapat diolah menjadi produk dengan nilai gizi yang meningkat. Namun, penelitian ini juga menyadari keterbatasannya. Fokus penelitian masih pada kadar karbohidrat, sehingga aspek gizi lain seperti protein, serat, dan penerimaan konsumen belum dikaji secara mendalam.
Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dipandang sebagai langkah awal dalam pengembangan produk pangan berbasis bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menyempurnakan formulasi produk agar tidak hanya unggul dari sisi kandungan karbohidrat, tetapi juga seimbang dari sisi gizi dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
