Yayasan Buddha Tzu Chi Bangun Seribu Rumah untuk Korban Bencana Aceh
Bencana selalu menyisakan luka, tetapi dari sana pula solidaritas sering menemukan bentuknya. Di Aceh, provinsi yang berulang kali diuji oleh bencana alam, harapan kembali hadir melalui rencana pembangunan seribu rumah bagi warga terdampak banjir bandang dan longsor.
Program ini digagas oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, yang akan membangun 1.000 unit hunian tetap (huntap) di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Rinciannya, sebanyak 722 unit dibangun di Aceh Utara dan 278 unit di Aceh Tamiang.
Langkah ini bukan sekadar bantuan darurat, melainkan bagian dari upaya pemulihan jangka menengah mengembalikan rasa aman, martabat, dan kepastian hidup bagi para korban bencana.
Pemerintah daerah Aceh turut berperan dengan menyediakan lahan serta menyiapkan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, listrik, dan air bersih. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak bisa ditumpukan pada satu aktor saja, melainkan membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
Secara sosial, inisiatif Tzu Chi memiliki makna yang lebih luas. Di wilayah yang identik dengan identitas keislaman yang kuat, kehadiran organisasi kemanusiaan berlatar Buddhis menegaskan bahwa nilai kemanusiaan melampaui batas agama dan identitas. Yang utama adalah kepedulian terhadap sesama manusia yang kehilangan rumah dan ruang hidupnya.
publik juga berharap pembangunan huntap ini memperhatikan aspek keberlanjutan. Bukan hanya cepat selesai, tetapi juga aman dari risiko bencana lanjutan, sesuai dengan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat, serta melibatkan warga dalam prosesnya. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan ruang untuk memulai hidup baru.
Seribu rumah mungkin belum menjawab seluruh kebutuhan korban bencana di Aceh, tetapi langkah ini menjadi penanda penting: bahwa di tengah krisis, empati bisa diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dari Aceh, solidaritas itu kembali belajar berjalanbpelan, tapi pasti.
