FEATUREDWawasan

Jika Hidup Adalah Jalur, Despha Dendi Irawan Memilih Terus Naik

HalimTidak semua orang mencintai alam dengan cara yang sama. Sebagian mendaki untuk pemandangan, sebagian untuk pencapaian. Despha Dendi Irawan justru mencintai alam dengan cara yang sunyi dan penuh kesadaran. Sebagai seorang tunanetra, ia hidup dalam keterbatasan yang sering kali dianggap penghalang. Namun bagi Despha, keadaan itu bukan alasan untuk berhenti. Justru dari sanalah ia belajar berjalan, mendaki, dan merawat hubungannya dengan alam secara lebih jujur.

Sejak awal, kehidupan Despha tidak pernah lepas dari pandangan orang lain yang serba khawatir. Banyak yang meragukan kemampuannya, banyak pula yang dengan niat baik mencoba membatasi langkahnya. Tunanetra, dalam pandangan umum, sering kali dilekatkan dengan ketergantungan dan ketidakmungkinan. Tetapi Despha memilih sikap berbeda. Ia menerima keadaannya tanpa menjadikannya alasan untuk menyerah.

Kecintaannya pada alam tumbuh bukan dari keinginan membuktikan sesuatu, melainkan dari kebutuhan akan ruang yang jujur. Alam, khususnya gunung, memberinya pengalaman yang tidak ia dapatkan di ruang sosial. Di sana, tidak ada penilaian, tidak ada stigma, hanya jalur yang harus dilalui dengan kesadaran penuh. Alam tidak menuntut kesempurnaan tubuh, melainkan kesiapan mental dan kehati-hatian.

Dengan keterbatasan penglihatan, Despha mengenal alam melalui cara yang berbeda. Ia mendengar suara langkah, merasakan kontur tanah, membaca arah melalui angin dan suara alam. Pendakian baginya bukan soal melihat, tetapi merasakan kehadiran. Dalam proses itu, ia belajar bahwa tubuh memiliki banyak cara untuk beradaptasi, selama diberi kesempatan dan kepercayaan.

Tentu, perjalanan Despha tidak lepas dari rasa takut dan kelelahan. Mendaki selalu menyimpan risiko, terlebih bagi seseorang dengan keterbatasan visual. Namun Despha tidak menutup mata terhadap kenyataan itu. Ia menyadari risiko, tetapi tidak membiarkannya menguasai hidupnya. Baginya, hidup yang sepenuhnya dihindarkan dari risiko justru kehilangan makna.

Di tengah masyarakat yang gemar menjadikan difabel sebagai objek simpati atau kisah inspiratif instan, Despha hadir dengan sikap yang tenang. Ia tidak ingin dikasihani, tetapi juga tidak ingin dipuja berlebihan. Ia hanya ingin menjalani hidupnya secara utuh, dengan pilihan-pilihan yang ia ambil sendiri. Mencintai alam adalah salah satu pilihan itu, pilihan untuk tetap terhubung dengan kehidupan di luar batas yang sering ditentukan orang lain.

Lebih jauh, kecintaan Despha pada alam menghadirkan pelajaran tentang relasi manusia dengan lingkungan. Dengan keterbatasannya, ia justru menunjukkan cara mencintai alam yang tidak menaklukkan. Ia hadir sebagai bagian kecil dari semesta, bukan sebagai penguasa. Dalam sikap rendah hati itu, ada pesan tentang etika, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap alam.

Despha Dendi Irawan adalah contoh nyata bahwa keterbatasan tidak harus berujung pada penyerahan diri. Sebagai tunanetra, ia memilih mencintai alam dan menjalani hidup dengan keberanian yang tenang. Ia tidak melawan keadaannya, tetapi juga tidak tunduk padanya. Dari langkah-langkahnya yang pelan namun pasti, kita belajar bahwa hidup bukan soal kesempurnaan, melainkan tentang keteguhan untuk terus berjalan dan mencintai kehidupan dengan cara yang kita mampu.