Spotify Wrapped sebagai Cermin Identitas Generasi Z
Setiap akhir tahun, lini masa media sosial selalu mendadak ramai dengan warna-warni grafik dan potongan lagu. Instagram Story dipenuhi tangkapan layar Spotify Wrapped: siapa artis terfavorit, lagu yang paling sering diputar, sampai berapa ribu menit waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan musik. Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z, momen ini terasa seperti ritual tahunan yang tak boleh dilewatkan. Ada rasa bangga, penasaran, sekaligus senang saat melihat kembali perjalanan musikal diri sendiri selama setahun. Tapi di balik keseruannya, Spotify Wrapped sebenarnya bekerja lebih jauh dari sekadar rangkuman lagu. Ia pelan-pelan memantulkan siapa diri kita, perasaan kita, bahkan bagaimana kita ingin dilihat orang lain.
Musik sebagai Bahasa Perasaan
Buat Gen Z, musik bukan cuma hiburan untuk mengisi waktu senggang. Musik sudah menjadi teman hidup: diputar saat bangun tidur, menemani perjalanan naik motor atau KRL, jadi latar suara saat mengerjakan tugas, hingga menemani overthinking di malam hari. Setiap momen punya soundtrack-nya sendiri. Tanpa sadar, semua kebiasaan itu direkam oleh Spotify.
Ketika Wrapped muncul di akhir tahun, banyak orang kaget melihat daftar lagu yang ternyata didominasi lagu galau, syahdu, atau justru yang penuh semangat. Dari situ, kita seperti diajak berkaca pada diri sendiri. “Oh, ternyata setahun ini aku sering sedih,” atau “Pantesan aku merasa lebih produktif, laguku isinya upbeat semua.” Musik akhirnya bukan cuma soal selera, tapi juga peta emosi.
Tak sedikit Gen Z yang menjadikan lagu sebagai tempat berlindung. Saat lelah dengan tuntutan sekolah, kuliah, pekerjaan, atau tekanan sosial, musik menjadi ruang aman yang paling mudah diakses. Cukup pakai earphone, dunia bisa terasa lebih tenang. Spotify Wrapped kemudian menjadi arsip diam-diam dari semua perasaan itu. Ia menyimpan jejak kesedihan, kebahagiaan, patah hati, sampai fase-fase hidup yang kadang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Wrapped sebagai Panggung Identitas
Begitu hasil Wrapped muncul, refleksi pribadi itu jarang berhenti di layar sendiri. Data tadi langsung naik ke media sosial. Story Instagram penuh dengan daftar artis favorit dan lagu teratas. Tindakan membagikan Wrapped sebenarnya bukan cuma berbagi musik, tapi juga cara Gen Z berkata, “Ini aku.”
Selera musik berubah menjadi simbol identitas. Orang yang top artist-nya musisi indie dianggap punya selera “niche”. Yang isinya lagu-lagu K-pop sering langsung diberi label fandom tertentu. Yang penuh lagu galau dikira sedang patah hati. Semua orang seolah membaca kepribadian dari daftar lagu.
Di sinilah Wrapped berubah menjadi panggung kecil tempat identitas dipamerkan. Ada rasa bangga ketika selera dianggap keren, relate, atau sesuai tren. Tapi ada juga rasa canggung jika merasa selera musiknya terlalu “pasaran”. Like dan komentar dari teman-teman menjadi semacam validasi sosial. Tanpa sadar, Gen Z tidak hanya berbagi data, tapi juga mempertaruhkan citra diri lewat musik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, identitas tidak lagi sepenuhnya dibangun dari cerita hidup yang kita sampaikan sendiri. Ia juga dibentuk oleh apa yang terlihat di layar. Spotify Wrapped membantu mengemas identitas itu dalam bentuk visual yang singkat, menarik, dan mudah dikonsumsi.
Antara Diri Kita dan Algoritma
Namun, identitas yang tercermin di Spotify Wrapped tidak sepenuhnya murni dari kehendak personal. Ada peran besar algoritma di baliknya. Rekomendasi lagu yang terus berulang, playlist yang disodorkan setiap hari, dan lagu-lagu viral di media sosial ikut membentuk apa yang akhirnya sering kita dengarkan.
Tidak heran jika artis global mendominasi Wrapped banyak Gen Z. Budaya musik hari ini sudah lintas batas. Lagu dari Korea, Amerika, atau Eropa bisa sama akrabnya dengan lagu lokal. Selera musik Gen Z dibentuk oleh arus global yang mengalir deras lewat layar ponsel.
Tanpa disadari, kita sering mengira sedang memilih, padahal kita juga sedang dipilihkan. Algoritma mempelajari kebiasaan kita, lalu menyuguhkan lagu-lagu yang dianggap paling sesuai. Dari sanalah selera terus dikuatkan, bahkan diarahkan. Spotify Wrapped menjadi hasil dari pertemuan antara kemauan pribadi dan kerja mesin yang tak terlihat.
Di balik satu tangkapan layar Wrapped, tersimpan cerita tentang keresahan, kebahagiaan, pencarian jati diri, dan cara anak muda menegosiasikan identitasnya di dunia digital yang serba cepat. Musik memang terdengar, tapi data berbicara lebih pelan dan sering kali lebih jujur.
