Passiliran dan Cara Manusia Menerima Kematian
Kematian selalu menjadi peristiwa yang sunyi, getir, dan sulit diterima. Di banyak tempat, kematian adalah sesuatu yang ditakuti, disembunyikan, bahkan sering ditolak secara emosional. Tangisan, penolakan, dan keputusasaan menjadi bahasa yang umum. Namun di sebuah sudut Toraja, tepatnya di Desa Kambira, kematian, terutama kematian bayi diterima dengan cara yang berbeda. Tidak dengan tanah, tidak dengan nisan, melainkan dengan pohon. Tradisi itu bernama Passiliran. Di sana, bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi tidak dikubur seperti orang dewasa, tetapi “dikembalikan” ke batang pohon Tarra, seolah alam sendiri membuka rahim keduanya. Dalam keheningan hutan dan kokohnya batang pohon, kita diajak merenungi bagaimana manusia sebenarnya memaknai kematian: sebagai akhir yang menakutkan, atau sebagai kepulangan yang damai.
Kematian dalam Pandangan Budaya Toraja: Bukan Akhir, melainkan Perjalanan
Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah titik final. Ia adalah sebuah proses menuju kehidupan lain. Dalam kepercayaan lama Aluk Todolo, kematian merupakan fase peralihan roh dari dunia manusia menuju alam leluhur. Pandangan inilah yang menjadi dasar dari berbagai ritual kematian di Toraja, termasuk Passiliran. Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi dianggap masih suci, belum sepenuhnya “menjadi manusia dunia”. Karena itu, ia tidak diperlakukan seperti kematian orang dewasa.
Dalam tradisi Passiliran, jenazah bayi ditempatkan di lubang batang pohon Tarra dalam posisi berdiri. Lubang itu kemudian ditutup dengan ijuk. Pohon Tarra dipilih karena getahnya dipercaya menyerupai air susu ibu. Simbol ini begitu kuat: bayi yang meninggal dikembalikan kepada “ibu alam” untuk disusui kembali secara spiritual. Tidak ada peti mati. Tidak ada tanah yang menimbun. Tidak ada batas keras antara hidup dan mati. Yang ada hanyalah pohon yang terus tumbuh, seolah menegaskan bahwa kehidupan tetap berjalan meski kematian datang.
Cara ini menunjukkan bahwa masyarakat Toraja tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus dilawan atau ditolak. Kematian diterima sebagai bagian dari siklus alam. Pohon yang tumbuh menjadi simbol bahwa kehidupan tidak berhenti pada kematian seorang bayi. Ia bertransformasi. Ia berpindah bentuk. Dalam logika modern, kematian sering dipahami sebagai kehilangan mutlak. Namun dalam Passiliran, kematian adalah kepulangan tenang, pelan, dan tanpa perlawanan.
Menariknya, tidak ada kemewahan berlebihan dalam ritual ini. Kesederhanaan justru menjadi kekuatannya. Duka tidak dipertontonkan, tetapi dirawat dalam keheningan. Ini adalah bentuk penerimaan yang dalam: menerima bahwa manusia tidak berkuasa penuh atas hidup dan mati. Segalanya kembali pada alam dan Sang Pencipta.
Passiliran dan Refleksi Manusia Modern dalam Menerima Kematian
Di tengah dunia modern, kematian sering hadir sebagai tragedi yang penuh kepanikan. Rumah sakit, alat medis, dan teknologi canggih seakan menjadi benteng terakhir manusia untuk menunda kematian. Ketika kematian datang juga, manusia sering tidak siap. Kita meratap, menolak, bahkan menyalahkan keadaan. Kematian menjadi sesuatu yang harus “dikalahkan”, bukan diterima.
Di sinilah Passiliran menawarkan cermin bagi manusia modern. Tradisi ini mengajarkan bahwa penerimaan atas kematian bukan berarti menyerah, tetapi memahami keterbatasan sebagai manusia. Orang tua di Toraja tentu tetap berduka ketika bayinya meninggal. Tidak ada manusia yang kebal dari rasa kehilangan. Namun adat memberi ruang untuk mengolah duka itu dengan tenang, tidak meledak-ledak, tidak penuh perlawanan batin. Duka dilebur dengan keyakinan bahwa bayi itu kembali ke asalnya dengan cara yang paling lembut.
Bagi masyarakat modern, kematian sering menciptakan kekosongan yang menghancurkan. Kita kehilangan arah ketika seseorang pergi. Namun bagi masyarakat Toraja, terutama dalam Passiliran, kematian bayi justru dipahami sebagai makhluk yang “belum sepenuhnya hadir”, sehingga kepulangannya pun tidak dianggap sebagai tragedi mutlak. Perspektif ini bukan meniadakan kesedihan, tetapi menghindarkan manusia dari keputusasaan yang berlarut-larut.
Passiliran juga memperlihatkan bagaimana manusia modern sering memisahkan diri dari alam, seolah hidup hanya soal tubuh dan teknologi. Sementara dalam tradisi ini, manusia menyatu kembali dengan alam bahkan setelah kematian. Pohon bukan hanya benda mati, tetapi simbol kehidupan, ibu, dan tempat berpulang. Ini menjadi kritik halus terhadap manusia modern yang kerap memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai bagian dari kehidupan spiritual.
Di sisi lain, Passiliran kini kian jarang dilakukan. Perubahan agama, pendidikan modern, dan globalisasi perlahan menggeser tradisi ini. Banyak keluarga Toraja kini memakamkan bayi secara umum di tanah. Perubahan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sekaligus menandai hilangnya satu cara lama manusia dalam berdamai dengan kematian. Tradisi yang dulu mengajarkan ketenangan dalam menerima kehilangan, kini perlahan memudar di bawah logika modern yang serba rasional.
