FEATUREDTradisi

Kisah Ratu Anjani, Sang Penjaga Tanah Lombok

 

Di Pulau Lombok, Gunung Rinjani tidak hanya berdiri sebagai gunung yang tinggi dan indah. Bagi masyarakat di sekitarnya, Rinjani adalah tempat yang hidup, tempat yang memiliki cerita, rahasia, dan kehormatan. Anginnya membawa kisah lama, hutannya menyimpan bisik leluhur, dan puncaknya dipercaya menjadi singgasana seorang ratu gaib yang namanya terus disebut dari generasi ke generasi: Ratu Anjani.

Konon jauh sebelum Rinjani ramai didaki orang dari berbagai daerah, masyarakat Sasak telah mengenal gunung itu sebagai tempat yang suci. Mereka percaya bahwa di balik kabut yang turun pelan di lerengnya, ada kehidupan lain yang tidak tampak oleh mata manusia biasa. Di sanalah Ratu Anjani bersemayam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan agung, cantik, bijaksana, dan memiliki wibawa besar. Tidak semua orang dapat melihatnya, tetapi banyak orang percaya bahwa kehadirannya terasa dalam ketenangan hutan, kejernihan mata air, dan kesakralan Danau Segara Anak.

Cerita tentang Ratu Anjani memiliki beberapa versi. Namun, salah satu kisah yang melekat di masyarakat menceritakan bahwa ia dahulu adalah seorang putri dari kerajaan tua di Lombok. Sang putri memiliki paras yang elok dan hati yang lembut. Ia dicintai rakyat karena sikapnya yang rendah hati. Namun, kehidupannya tidak selalu mudah. Dalam beberapa tuturan, sang putri mengalami kesedihan besar karena cinta dan takdir yang tidak berpihak kepadanya. Ia kemudian memilih pergi meninggalkan kehidupan istana dan masuk ke wilayah pegunungan.

Perjalanan sang putri membawanya ke kawasan Rinjani. Di tempat yang sunyi itu, ia tidak lagi hidup seperti manusia biasa. Ia memasuki alam gaib dan kemudian dikenal sebagai Ratu Anjani, penguasa kerajaan tak kasatmata di Gunung Rinjani. Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa ia menjadi penjaga gunung, hutan, mata air, dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.

Kerajaan Ratu Anjani diyakini berada di sekitar puncak Rinjani dan kawasan Danau Segara Anak. Danau itu sendiri sering dianggap sebagai tempat yang sangat sakral. Airnya tenang, dikelilingi tebing dan lereng gunung yang megah. Bagi banyak orang Lombok, Segara Anak bukan hanya danau di ketinggian, melainkan ruang spiritual yang harus dihormati. Di tempat itulah batas antara dunia manusia dan dunia gaib seakan menjadi tipis. Orang yang datang ke sana dianjurkan menjaga ucapan, menahan kesombongan, dan tidak berbuat sembarangan.

Dalam cerita rakyat, Ratu Anjani tidak digambarkan sebagai sosok yang menakutkan tanpa alasan. Ia justru dipandang sebagai penjaga keseimbangan. Ia tidak mengganggu manusia yang datang dengan niat baik. Namun, ia dipercaya dapat memberi teguran kepada siapa pun yang bersikap angkuh, merusak alam, atau tidak menghormati adat. Karena itulah, masyarakat sekitar Rinjani sering mengingatkan para pendaki dan pengunjung untuk menjaga perilaku selama berada di gunung.

Nasihat seperti jangan berkata kasar, jangan membuang sampah, jangan mengambil sesuatu sembarangan, dan jangan bersikap sombong bukan sekadar aturan pendakian. Nasihat itu lahir dari kepercayaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Melalui legenda Ratu Anjani, orang-orang diajarkan bahwa alam memiliki martabat. Gunung bukan tempat untuk ditaklukkan dengan kesombongan, melainkan tempat untuk didatangi dengan kerendahan hati.

Bagi masyarakat Sasak, kisah Ratu Anjani juga menjadi cara untuk menjaga hubungan antara manusia dan alam. Dahulu, ketika belum ada papan larangan atau aturan resmi seperti sekarang, cerita rakyat menjadi penjaga perilaku. Anak-anak mendengar kisah ini dari orang tua mereka. Para pemuda mengingatnya ketika memasuki hutan. Para pendaki mendengarnya dari pemandu lokal sebelum memulai perjalanan. Cerita itu membuat orang merasa bahwa setiap langkah di Rinjani harus dilakukan dengan penuh hormat.

Ratu Anjani kemudian bukan hanya tokoh dalam legenda, tetapi juga simbol identitas masyarakat Lombok. Namanya melekat pada Rinjani, sama seperti kabut melekat pada lereng gunung ketika pagi datang. Ia hadir dalam percakapan masyarakat, dalam cerita para tetua, dan dalam peringatan yang diberikan kepada siapa saja yang hendak naik ke gunung. Walaupun zaman berubah dan Rinjani kini dikenal sebagai destinasi wisata dunia, kisah Ratu Anjani tetap bertahan.

Di balik legenda itu, tersimpan pesan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sana. Orang Lombok diajarkan untuk tidak memandang alam sebagai benda mati. Hutan, danau, mata air, dan gunung adalah bagian dari kehidupan. Jika alam dijaga, manusia akan mendapat kebaikan. Jika alam dirusak, manusia sendiri yang akan menerima akibatnya. Pesan inilah yang membuat legenda Ratu Anjani tetap penting hingga hari ini.

Mungkin tidak semua orang percaya bahwa Ratu Anjani benar-benar bersemayam di puncak Rinjani. Namun, hampir semua orang dapat memahami makna dari kisahnya. Legenda ini mengajarkan sopan santun, rasa hormat, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Dalam dunia modern yang sering memandang alam sebagai tempat wisata semata, kisah Ratu Anjani mengingatkan bahwa setiap tanah memiliki penjaga, setiap gunung memiliki cerita, dan setiap tradisi memiliki pesan yang patut didengarkan.

Karena itu, ketika seseorang memandang Rinjani dari kejauhan, ia tidak hanya melihat gunung yang menjulang gagah. Ia sedang memandang rumah sebuah legenda. Di balik kabut, di antara hutan dan batu, masyarakat percaya bahwa Ratu Anjani tetap menjaga tanah Lombok. Diam-diam, ia menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah tamu di alam ini, dan tamu yang baik selalu datang dengan hormat.

 

Valensiaulia Desi

Redaksi Waringindotco